Jas Merah : PT. Socfindo Kebun Lae Butar Dalam Balutan Waktu

Oleh : Razaliardi Manik.
Penulis adalah Direktur Central Hukum & Keadilan Aceh Singkil, Tinggal di Kampung Baru, Singkil Utara.

SINGKILNEWS.ID-Bung Karno, bapak proklamator Negeri ini dalam bukunya “ Di bawah Bendera Revolusi” menyebutkan agar kita jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jas Merah). Empat suku kata ini mengingatkan kita pada kehadirin sebuah perusahaan bernama PT. Socfindo yang kala itu masih bergerak di bidang perkebunan karet.

Tulisan ini bukan bermaksud membantah sorotan tajam atas pandangan miring sebahagian orang terhadap dugaan pelanggaran regulasi yang mungkin saja terjadi di perusahaan PT. Socfindo yang kini telah beralih menjadi perusahaan perkebunan kelapa sawit. 

Tulisan ini bukan pula bermaksud ‘mengangkat batang terendam’. Sama sekali tidak. Tulisan ini hanya sekedar mengingatkan kita untuk tidak melawan lupa, betapa besarnya jasa perusahaan asal negeri Belanda ini terhadap masyarakat yang kala itu masih dalam naungan Aceh Selatan, atau tepatnya masih dalam wilayah Kemukiman Tanjung Mas, Kecamatan Simpang Kanan, kewedanaan Singkil.

Saya Razaliardi Manik bersaksi, selaku salah seorang putra asli Aceh Singkil yang lahir pada 02 Agustus 1962 di Rimo, tepatnya sekitar 200 meter dari Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT. Socfindo saat ini. Jujur saja, masa kanak-kanak dan masa remaja saya bisa dikatakan tidak seindah masa kanak-kanak saat ini. Hidup di awal-awal kemerdekaan bangsa kita ini memang begitu pahit. Setiap orang menjalani kehidupan penuh dengan kekurangan, hidup dengan kekumuhan dan kemiskinan. 

Kala itu ada istilah ‘musim melehe’ yang artinya musim lapar. Musim dimana hasil panen padi di sawah masih menunggu berbuah. Hampir semua orang hidup dalam kesusahan, mata pencaharian masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya hanya bergantung pada hasil sawah dan tangkapan ikan.

Salahkah jika saya bersaksi untuk mengatakan sebuah kebenaran? Kebenaran bahwa keberadaan PT. Socfindo adalah ibarat ‘malaikat’ pembawa kehidupan bagi masyarakat kala itu? Salahkah jika saya katakan jika perusahaan ini menjadi tulang punggung penompang kehidupan masyarakat, khususnya masarakat di Kecamatan Simpang Kanan (Gunung Meriah saat ini -Red). Rasanya terlalu naïf dan munafik jika kita tidak mengingat sejarah yang pernah menyertai perjalanan dalam kehidupan kita.

Saya tidak bisa menghitung dengan rumus ilmu matematika, berapa banyak masyarakat yang bekerja di PT. Socfindo, berapa banyak nyawa manusia yang nafkah hidupnya bergantung di perusahaan ini. Sebab, ketika itu saya masih seorang kanak-kanak yang berjalan tertatih dan terseok-seok. Apa yang saya sebutkan ini bukan merupakan sebuah pembenaran atau pembelaan terhadap perusahaan yang berdiri sekitar tahun 1938 itu. 

Apa yang saya lihat dan rasakan pada masa itu barangkali sudah pasti juga dialami oleh kawan-kawan se-angkatan saya yang masih hidup seperti, Sarifuddin Hutabarat alias Hutabarat, H. Abuhanifah alias Idun, Roslem alias Dalem, Pukak Magodang, dan H. Darmudi pemilik Langgeng Jaya. Atau bisa juga ditanyakan kepada kawan-kawan yang usianya sedikit di bawah saya, seperti H. Tamiruddin alias gecik Tami. 

Tanyakan betapa susahnya kehidupan kala itu. Dimana orang tua kami bekerja, darimana kami dapat makan. Apa itu yang disebut “Beras Catu” yang untuk zaman sekarang tidak layak dikonsumsi. Meski begitu, itu pulalah yang membesarkan kami, dan atas jasa perusahaan itu pulalah kami bisa sekolah. 

Rasanya tidak salah jika tulisan ini saya beri judul “ Jas Merah: Perkebunan PT. Socfindo Dalam Balutan Waktu”, waktu dimana pemerintah tak bisa hadir di tengah-tengah rakyat, pemerintah di hampir seluruh negeri ini tak berdaya untuk membuka lapangan kerja bagi rakyatnya, dan tak mampu pula memikirkan nasib rakyat di tengah agresi dan pemberontakan di awal kemerdekaan republik Indonesia yang tercinta ini. 

Zaman itu tidak ada bantuan dari pemerintah, tidak ada istilah yang namanya subsidi, tidak ada BPJS, tidak ada PKH, tidak ada BLT, tidak ada bantuan pertanian, tidak ada subsidi pupuk, dan tidak ada subsidi listrik. Oh iya. Pada zaman itu mendengar kata ‘listrik’ di tengah-tengah keluarga saja tidak pernah disebut-sebut. Kami hanya tau lampu penerangan itu adalah ‘Pelitan atau Togok’ yang terbuat dari kaleng atau botol yang di isi dengan minyak tanah dengan sumbu kain yang tak berguna lagi. 

Pertanyaannya. Dimana kehadiran Negara saat itu? Jawabnya, Negara dalam keadaan kacau, para pemimpin bangsa dan para patriot-patriot bangsa sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang baru saja merdeka, sehingga masalah persoalan kehidupan rakyat tak terpikirkan lagi.  

Tapi tidak bagi PT. Socfindo. Perusahaan yang kita caci maki sebagai perusahaan penjajah ini dengan tangan terbuka menerima masyarakat untuk dipekerjakan. Meski ditempatkan sebagai kuli sekalipun pada saat itu sudah merupakan penghargaan dan jasa yang tak dapat dibayar kembali. 

Jika dibandingkan dengan kehadiran perusahaan perkebunan HGU yang sekarang menguasai Sumber Daya Alam (SDA) kita tanpa menyisakan sejengkalpun tanah untuk masa depan anak cucu di negeri ini, manakah yang lebih bermanfaat bagi masyarakat?. Malah sebaliknya mereka pemilik HGU dengan congkak dan pamer menunjukkan betapa lemaknya buah kelapa sawit di bumi Tuan Syekh Abdurrauf ini.

Adakah masyarakat yang berada disekitarnya dipekerjakan? Jujurlah. Andaipun itu ada, barangkali bisa dihitung dengan jari. Selebihnya, mereka terpaksa mencari nafkah sebagai pemungut berondolan, sisa-sisa Tandan Buah Segar (TBS) yang tertinggal. Masyarakat kita tetap miskin, bahkan daerah ini menyandang predikat daerah termiskin di Aceh. Tapi siapa yang peduli? Adakah pemerintah hadir di sana? Bak kata anak-anak zaman sekarang “Emang Gua Peduli. Gua Aja Gak Ada Yang Peduli”. Ironis memang. 

Seperti yang telah saya uraikan di atas. Tulisan ini bukan “mengangkat Batang Terendam”. Pelanggaran regulasi perundang-undangan mungkin saja ada yang ditabrak oleh PT. Socfindo. Tapi bukan perusahaan ini saja, seluruh perusahaan HGU Perkebunan juga melakukan hal yang sama, bahkan mungkin lebih parah lagi. Faktanya memang demikian. 

Mengapa kita tak pernah jujur? Begitu pahitkah kejujuran itu sehingga kita tak lagi bisa melihat kebelakang meski hanya sesaat? Begitu beratkah mengucapkan sebuah kalimat “Terimakasih” kepada PT. Socfindo yang kehadirannya begitu berarti bagi masyarakat pada era itu? Tidak adakah toleransi baginya sesaat menunggu pembenahan? Saya berharap jangan karena hanya nila setitik membuat hancur susu satu belanga. 

Masa lalu memang sudah lama berlalu, kenangan pahit maupun manis sudah pasti masih tertinggal di sana. Meski begitu, masa lalu bukan untuk dilupakan, karena itu adalah bagian dari perjalanan hidup. 
Wassalam.(*)

Related

SOSIAL 213463681633549026

Post a Comment

emo-but-icon

item