Ironi Sekolah Tertua di Aceh Singkil: SDN 2 Sidorejo Kekurangan Fasilitas Dasar
https://www.singkilnews.id/2026/04/ironi-sekolah-tertua-di-aceh-singkil.html
SINGKILNEWS.ID – Kondisi memprihatinkan masih menyelimuti dunia pendidikan di Kabupaten Aceh Singkil. Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Sidorejo, Kecamatan Gunung Meriah, hingga kini masih kekurangan fasilitas dasar berupa ruang kegiatan belajar (RKB) dan mandi cuci kakus (MCK).
Ironisnya, sekolah yang berdiri sejak tahun 1982 ini justru terkesan luput dari perhatian pemerintah, baik kabupaten maupun provinsi.
Kepala SDN 2 Sidorejo, Yuliana S.Pd, mengungkapkan bahwa pihak sekolah sudah berulang kali mengajukan proposal bantuan.
Bahkan, tim dari dinas terkait disebut telah turun langsung melakukan peninjauan ke lapangan.Namun hingga kini, realisasi bantuan yang diharapkan tak kunjung datang.
“Harapan kami kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil dan Provinsi Aceh agar segera mengucurkan bantuan pembangunan di sekolah kami. Kondisi kami serba kekurangan—lebih banyak kurang daripada cukup,” ujar Yuliana saat ditemui wartawan, Kamis (2/4/2026).
Ia juga menambahkan bahwa kebutuhan mendesak tidak hanya RKB, tetapi juga fasilitas MCK dan perbaikan plafon yang rusak—semuanya sudah diajukan secara resmi, namun belum mendapat tindak lanjut nyata.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius terkait komitmen pemerintah dalam pemerataan pembangunan pendidikan, terutama di sekolah-sekolah lama yang memiliki sejarah panjang.
Tokoh masyarakat setempat pun angkat suara. Ia menilai SDN 2 Sidorejo seakan “tidak terlihat” oleh pemerintah dari masa ke masa.
“Sekolah ini seperti luput dari pandangan pemerintah. Padahal ini salah satu sekolah tertua di Aceh Singkil dan sudah banyak melahirkan siswa berprestasi,” ujarnya.
Ia mendesak agar pemerintah segera turun tangan sebelum kondisi semakin memburuk dan berdampak pada kualitas pendidikan siswa.
“Kami berharap pemerintah jangan tutup mata. Tolong segera realisasikan bantuan untuk sekolah ini,” tegasnya.
Situasi ini menjadi cerminan masih adanya ketimpangan perhatian terhadap fasilitas pendidikan dasar. Di saat program pembangunan terus digembar-gemborkan, fakta di lapangan justru menunjukkan masih ada sekolah yang berjuang denganketerbatasan mendasar.
(Red/Sukri Malau)