Jejak Buaya di Tanah Singkil: Tercatat Sejak 1880, Konfliknya Belum Berakhir
https://www.singkilnews.id/2026/11/jejak-buaya-di-tanah-singkil-tercatat.html
SINGKILNEWS.ID – Keberadaan buaya di Aceh Singkil bukanlah persoalan baru. Jauh sebelum konflik antara manusia dan satwa liar menjadi perhatian publik seperti sekarang, buaya telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang bermukim di kawasan sungai, rawa, dan pesisir Singkil.
Menariknya, keberadaan predator air tersebut ternyata telah tercatat dalam literatur sejarah sejak abad ke-19. Catatan seorang penjelajah Eropa bahkan menggambarkan Sungai Singkel sebagai habitat buaya berukuran luar biasa besar.
Dalam buku Deux ans dans le pays des épices (Îles de la Sonde) yang diterbitkan di Paris pada 1880, Comte A. de Pina menguraikan kondisi geografis dan kehidupan alam di wilayah Singkel. Ia menyebut Sungai Singkel sebagai perairan yang kaya ikan, tetapi juga menjadi tempat hidup buaya-buaya berukuran besar. Bahkan, beberapa di antaranya disebut memiliki panjang hingga 24 kaki atau sekitar 7,3 meter.
Catatan tersebut bukan sekadar menggambarkan kekayaan alam Singkil pada masa lampau. De Pina juga mengungkap bagaimana masyarakat setempat menghadapi keberadaan buaya yang sulit ditangkap.
Menurut catatannya, warga menggunakan mata kail besi berukuran besar yang diberi umpan daging, kemudian diikat dengan rantai untuk memancing buaya. Cara tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Singkel pada abad ke-19 telah mengenal karakter satwa tersebut sekaligus memiliki metode tersendiri untuk menghadapinya.
Tidak hanya di Sungai Singkel, de Pina juga mencatat keberadaan buaya di Danau Asin Anak-Laut. Kawasan tersebut digambarkan terhubung dengan aliran sungai menuju laut serta dikelilingi hutan lebat dan rawa-rawa.
Gambaran ini memberikan petunjuk bahwa habitat buaya pada masa itu tersebar di kawasan perairan yang lebih luas, tidak terbatas pada satu aliran sungai.
Lebih dari Seabad, Persoalan yang Sama Terulang
Lebih dari satu abad berlalu, keberadaan buaya masih menjadi bagian dari realitas kehidupan masyarakat Aceh Singkil.
Pada 2015, Mongabay Indonesia melaporkan konflik antara buaya muara (Crocodylus porosus) dan warga yang mencari lokan di sekitar Kuala Singkil. Menariknya, laporan tersebut juga menyinggung penggunaan kail besi oleh warga untuk menangkap buaya.
Kemiripan metode tersebut dengan catatan Comte A. de Pina pada 1880 menjadi sebuah ironi sejarah. Teknik yang pernah dicatat penjelajah asing lebih dari seabad lalu ternyata masih muncul dalam kehidupan masyarakat Singkil modern.
Persoalan ini belum berakhir. Pada 2024, BKSDA Aceh mencatat lima kasus interaksi negatif antara manusia dan buaya di Aceh Singkil.
Memasuki awal 2025, sejumlah kasus serangan kembali diberitakan, termasuk peristiwa yang menimpa warga di Teluk Rumbia dan Rantau Gedang.
Rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa konflik manusia dan buaya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan persoalan nyata yang terus menghantui masyarakat yang menggantungkan hidup pada sumber daya perairan.
Antara Keselamatan Warga dan Kelestarian Habitat
Fenomena ini perlu dilihat secara menyeluruh. Di satu sisi, sungai, muara, dan rawa menjadi sumber penghidupan masyarakat untuk mencari ikan, lokan, serta memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun, di sisi lain, kawasan perairan tersebut merupakan habitat alami buaya. Tumpang tindih antara ruang aktivitas manusia dan wilayah jelajah satwa liar menjadi salah satu faktor yang meningkatkan potensi konflik.
Karena itu, penanganan konflik manusia dan buaya di Aceh Singkil tidak seharusnya hanya mengandalkan penangkapan atau tindakan spontan setelah terjadi serangan.
Pemerintah daerah bersama BKSDA perlu memperkuat langkah pencegahan melalui pemetaan kawasan rawan, pemasangan papan peringatan, edukasi keselamatan, serta penyediaan informasi mengenai lokasi perairan yang berisiko bagi aktivitas masyarakat.
Perlindungan habitat alami buaya juga perlu menjadi bagian dari kebijakan jangka panjang. Sebab, keselamatan manusia dan kelestarian satwa liar semestinya tidak dipertentangkan, melainkan dikelola secara seimbang.
Catatan Comte A. de Pina dari tahun 1880 memberikan satu pelajaran penting: buaya telah lama menjadi bagian dari ekosistem Singkil. Tantangan bagi generasi sekarang bukan sekadar bagaimana menghadapi buaya, tetapi bagaimana membangun kehidupan yang lebih aman di tengah lingkungan yang sejak dahulu menjadi habitatnya.
Penulis: Akla Limbong, S.Pd., Gr.
Pegiat Sejarah dan Budaya Singkel
Sumber: Comte A. de Pina (1880), Deux ans dans le pays des épices (Îles de la Sonde), Paris: A. Quantin.